Gemuruh di Balik Rumpun Bambu: Gelanggang Desa

businessheaders.com – Gemuruh di Balik Rumpun Bambu: Gelanggang Desa, Matahari mulai condong ke barat, mengirimkan semburat cahaya jingga yang menerobos celah-celah daun bambu. Di ujung desa, di sebuah tanah lapang yang biasanya sunyi, udara sore itu terasa berbeda. Bukan suara jangkrik atau desir angin yang mendominasi, melainkan riuh rendah suara manusia bercampur dengan kokok lantang yang memecah keheningan.

Ini adalah sore “kalangan”—sebutan warga setempat untuk arena sabung ayam. Sebuah tradisi yang mendarah daging, tumbuh subur di antara ladang jagung dan persawahan, menjadi napas hiburan bagi kaum lelaki desa setelah seharian bergelut dengan cangkul dan lumpur.

Sang Primadona Berbulu Wiring Galih

Di pinggir arena, Pak Sarman tampak sibuk. Tangannya yang kasar dan berurat membelai punggung seekor ayam jago berbulu wiring galih (hitam kemerahan). Dengan penuh kehati-hatian, ia membasuh wajah ayam kesayangannya itu dengan spons basah. Air menetes dari paruh si jago yang tampak garang, matanya tajam menatap sekeliling seolah tahu bahwa pertarungan sudah di depan mata.

“Ini bukan sekadar ayam,” gumam Pak Sarman sambil menyulut rokok klobotnya. “Ini harga diri.”

Bagi warga desa, ayam aduan adalah permata. Mereka dirawat layaknya atlet profesional. Dimandikan tiap pagi, dijemur di bawah sinar matahari hangat, diberi jamu dari campuran telur bebek, madu, dan kunyit, hingga dipijat agar otot-ototnya lemas namun kuat. Ketika ayam itu turun ke gelanggang, ia membawa serta jerih payah dan harapan tuannya. mikitoto

Gemuruh di Balik Rumpun Bambu: Gelanggang Desa

Lingkaran Manusia dan Aroma Tembakau – Gemuruh di Balik Rumpun Bambu: Gelanggang Desa

Arena itu sederhana saja. Hanya tanah yang dipadatkan, dibatasi oleh geber (pembatas) kain atau anyaman bambu setinggi lutut. Namun, energi di dalamnya meledak-ledak.

Para penonton—mulai dari petani tua, pemuda desa, hingga pedagang pasar—membentuk lingkaran rapat. Aroma keringat bercampur dengan asap rokok kretek yang mengepul tebal menciptakan kabut tipis di udara. Suara tawar-menawar terdengar samar, kode-kode jari dilemparkan, menandakan bursa taruhan kecil-kecilan yang menjadi bumbu penyedap ketegangan.

“Air! Air!” teriak seorang wasit, memberi tanda persiapan dimulai.

Dua ekor ayam jago dilepaskan. Hening sejenak menyelimuti arena, seolah waktu berhenti berdetak. Kedua unggas itu saling tatap, leher mereka memanjang, bulu kuduk berdiri tegak menantang lawan.

Tarian Maut di Atas Debu

Brak!

Hantamam pertama terjadi. Debu tanah seketika membumbung tinggi. Kedua ayam itu melompat, kaki-kaki mereka beradu di udara. Suara kepak sayap terdengar keras, berirama dengan sorak-sorai penonton yang seketika pecah.

“Hajar! Terus!” “Awas bawah! Balas!”

Teriakan para botoh (penggemar sabung ayam) menggema. Jantung berdegup kencang setiap kali taji—senjata andalan di kaki ayam—nyaris mengenai sasaran. Ini adalah tarian brutal namun memiliki seni tersendiri bagi para penikmatnya. Mereka melihat teknik: bagaimana ayam ngalung (mengunci leher lawan), memukul dari samping, atau bertahan dengan cerdik.

Di tengah riuh itu, emosi manusia tumpah ruah. Ada wajah yang tegang menahan napas, ada yang memukul paha sendiri karena gemas, dan ada pula yang tersenyum lebar melihat jagoannya mendominasi.

Senja yang Menutup Laga – Gemuruh di Balik Rumpun Bambu: Gelanggang Desa

Pertarungan usai ketika salah satu ayam tak lagi sanggup berdiri atau melarikan diri. Wasit mengangkat pemenang tinggi-tinggi. Di wajah pemiliknya, terpancar kepuasan yang tak ternilai harganya—lebih dari sekadar uang taruhan, ini adalah tentang pengakuan di mata komunitas.

Saat matahari benar-benar tenggelam dan suara adzan Maghrib sayup-sayup terdengar dari surau, kerumunan itu perlahan bubar. Mereka kembali menjadi warga desa biasa. Yang menang mentraktir kopi di warung, yang kalah pulang dengan langkah gontai namun berjanji akan melatih ayamnya lebih keras lagi.

Tanah lapang itu kembali sunyi. Hanya tersisa jejak kaki, beberapa helai bulu yang gugur, dan cerita seru yang akan dibahas berulang-ulang di pos ronda malam nanti. Di pedesaan, sabung ayam bukan sekadar pertarungan binatang; ia adalah panggung sosial tempat maskulinitas, persahabatan, dan tradisi bertemu dalam satu lingkaran debu.

Gemuruh di Balik Rumpun Bambu: Gelanggang Desa

Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *